Ramadan; Refleksi Manajemen Diri dan Kontrol Sosial Oleh: Husni Hirjin - Analisa - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:58 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Analisa

    Ramadan; Refleksi Manajemen Diri dan Kontrol Sosial Oleh: Husni Hirjin


    Saat berpuasa, kita senantiasa dituntut untuk tetap bekerja. Bekerja keras, bagi orang beriman, bukanlah suatu tuntutan karena adanya pengawasan dari atasan. Orang beriman akan senantiasa merasa diawasi langsung oleh Allah Swt. (murâqabatullâh). Puasa akan mendidik orang tetap bekerja meski tidak diawasi manusia. Perwujudan kerja keras ini dapat juga dilihat dari semangat menjalankan ibadah sunnah pada bulan Ramadan. Seseorang yang jarang shalat sekalipun akan berusaha untuk menunaikan shalat secara lengkap dan tepat waktu, bahkan shalat Tarawih di saat datangnya Ramadan.

    Bayangkan, hanya lebih cepat sedetik saja, orang yang berpuasa tidak mau untuk berbuka puasa, dan ini berlaku untuk semua orang termasuk anak-anak kita. Belajar berdisiplin bukan berarti menyiksa diri sendiri, namun belajar sabar dan bahagia.

     

    Hikmah Puasa

    Ramadan adalah bulan disyariatkan puasa dan merupakan salah satu rukun Islam. Sebagaimana firman Allah Swt., "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (Al-Baqarah [2]: 183).

    Puasa telah dilaksanakan sejak lama sebelum Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu puasa. Bahkan dalam sejarah agama-agama besar, puasa sudah tidak asing lagi dalam tatanan syariat mereka.

    Universalitas puasa bisa dimengerti karena esensi dari puasa itu sendiri bukan "mengerjakan" melainkan "menahan diri", yakni menahan diri dari makan dan minum, tidak melakukan seksualitas di siang hari dan menghindari sikap hewani yang merusak, serta dianjurkan ibadah pada malam harinya (qiyâmullail) karena sesungguhnya bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, sumber segala rahmat dan kebaikan.

    Allah memberi keberkahan dan maghfirah; para malaikat turun untuk ikut memanjatkan doa dan pujian agar manusia memperoleh ampunan; semua pintu kebaikan dibuka lebar-lebar serta semua setan "dibelenggu".

    Rasulullah mengkhususkan bulan ini sebagai bulan untuk beribadah melebihi bulan-bulan lainnya. Demikian juga para sahabat, mereka saling bergegas dalam amal kebaikan semata-mata mengharap ridha Allah Swt.

     

    Hikmah Ramadan

    Selain posisi istimewa di sisi Allah Swt. yang diperoleh seorang mukmin yang berpuasa, hikmah dari puasa sungguh amatlah besar; baik hikmah rohani maupun jasmani; baik terhadap diri pribadi maupun masyarakat luas.

     

    Ramadan juga sebagai syahrul 'ibâdah (bulan ibadah) di mana terdapat nilai ibadah dan semangat beribadah yang tinggi. Selain itu juga sebagai "syahrul fath" (bulan kemenangan) karena umat Islam memperoleh kemenangan dalam "perang kecil", perang Badar. Ramadan bisa juga dikatakan sebagai "syahrul hudâ" (bulan petunjuk) karena pada bulan Ramadanlah turun petunjuk kehidupan, Al-Qur'an, untuk pertama kalinya.

    Selain itu bulan Ramadan juga disebut sebagai "syahrul ghufrân" (bulan penuh ampunan). Pada bulan ini, dimudahkan pintu pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Sebagai "syahrus salâm" (bulan keselamatan), bulan Ramadan adalah bulan yang mengandung nilai-nilai edukatif yang dapat menciptakan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Dan yang terakhir adalah sebagai "syahrul jihâd" (bulan perjuangan), di mana pada bulan ini manusia dihadapkan pada perjuangan yang amat besar. Mereka menahan diri dari perbuatan yang biasa diperbuat, selain menahan diri dari "ritual" makan dan minum sebagai kebutuhan primer, sejak fajar sampai terbenam matahari. Jika tiba waktu berbuka, mereka dianjurkan untuk menahan diri dari makan dan minum yang berlebihan, bahkan dianjurkan untuk membatasinya. Upaya ini merupakan cara untuk memelihara kesehatan jasmani. Bukankah masalah perut (makan dan minum) juga pemicu timbulnya penyakit jiwa? Begitulah kira-kira apa yang dikatakan para sufi.

    Kalau penyakit "rakus dan tamak" menimpa seseorang, akibat dan bahayanya bukan hanya terbatas pada lingkungan mikro, tapi lambat laun akan merambat dalam lingkungan makro, kehidupan berbangsa. Sehingga akan menimbulkan semangat kapitalisme yang—kemudian—bersifat ekspansif, yaitu mengeksploitasi hak milik orang lain akibat sifat serakah tersebut. Benarlah apa yang disinyalir oleh Imam Ghazali dalam "Ihyâ 'Ulumuddîn"-nya bahwa bencana paling besar dalam kehidupan manusia adalah nafsu perut.

    Dengan melaksanakan puasa, kita dapat mengadaptasi diri kita dengan mereka yang berekonomi lemah yang sering merasakan haus dan lapar, sehingga akan timbul rasa kasih sayang dan ketajaman sosial serta menjadi pengalaman rohani tersendiri. Mungkinkah kasih sayang tidak tumbuh ketika pemandangan itu terjadi di depan mata kita?

    Dalam batasan yang paling rendah (setidak-tidaknya) kehausan dan kelaparan akan berpengaruh pada kepekaan sosial, mengingatkan kita pada kaum fakir miskin sehingga termanifestasi dengan memperbanyak sedekah sebagai tindakan konkret rasa solidaritas social. Imbasnya akan menjembatani antara the have dan the have not, di mana pada titik akhirnya akan tercipta sumber daya manusia yang mempunyai etika dan kepekaan sosial yang tinggi.

    Semoga kita dapat menjadikan Ramadan sebagai wadah penggemblengan mental sehingga tercipta kontrol diri yang baik yang akan meluas dampaknya ke masyarakat. Sehingga puasa bukan hanya memperoleh lapar dan haus saja, sebagaimana beberapa golongan yang disinyalir Nabi Saw: "Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus." Tapi kita berharap dengan puasa, disamping hikmah yang dikandungya, yang paling penting adalah semua semata-mata merupakan bentuk pengabdian kita kepada Allah Swt. Wallâhu a'lam bis shawâb.
    Category: Analisa | Added by: fajar (2009-09-29)
    Views: 506 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Name *:
    Email *:
    Code *: