The Beginning of The End Oleh: Rahman Alfajri - Cerpen - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:59 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Cerpen

    The Beginning of The End Oleh: Rahman Alfajri


    Aku berdiri tepat di tengah persimpangan, lebih tepatnya di tengah taman yang berbentuk lingkaran, di depan sebuah miniatur bumi yang telah membatu. Miniatur bumi itu disangga oleh empat tangan yang mewakili empat arah dan bangsa-bangsa di dunia. Replika seperti ini cukup untuk menggambarkan persatuan seluruh umat manusia. Meskipun sebetulnya sangat ironi, empat tangan itu disangga oleh replika yang melingkar dan tergambar jelas di atasnya rentetan peperangan yang dipahat dalam bentuk relief. Rupanya perdamaian dan persatuan selama ini harus ditopang dengan peperangan dan genosida di atas muka bumi ataukah hanya sekedar menggambarkan peristiwa-peristiwa yang telah dilalui oleh umat manusia?

    Aku ingin mencari jawaban, kenapa perdamaian harus dicapai dengan peperangan? Umat manusia sudah muak dengan perang. Kita sudah bosan dengan jargon-jargon rasisme, liberalisme dan nasionalisme yang berujung pembantaian satu sama lain. Kenapa harus ada perang dunia? Kenapa harus ada genosida yang berkepanjangan? Kenapa perdamaian tidak dicapai dengan saling asah, saling asih dan saling asuh?

    Taman yang indah ini, ternyata di dalamnya menyimpan kengerian-kengerian sejarah. Aku tatap kursi-kursi yang tertata rapi, melingkar dan membelakangi relief perang dan pembantaian. Aku coba untuk duduk dan melihat keindahan Persimpangan Jalan. Mataku menangkap keindahan, tapi hatiku perih karena di belakangku zaman kegelapan selalu terulang. Ku hirup nafas panjang dan berdiri kembali. Aku harus pergi dari tempat ini. Tapi kemana aku harus pergi? Jalan ke arah barat terlihat lengang. Akan ku telusuri jalan itu.

    Sepanjang jalan aku saksikan relief yang hampir serupa. Relief-relief itu seolah bertutur tentang sebuah kebudayaan yang sangat maju. Teknologi tinggi selalu diagungkan dan dapat mempermudah seluruh sendi kehidupan. Tapi lagi-lagi aku dapatkan perang dan perbudakan pada zaman Romawi, pembantaian NAZI, kolonialisme orang-orang barat dan perang salib. Aku saksikan puing-puing WTC yang berserakan dengan darah-darah yang terus mengalir di ujung missile dan pesawat-pesawat perang super automatic.

    Ada seorang tua yang sedang bermain dengan mesin pesawat layaknya anak kecil umur tujuh tahunan. Tawanya nyaring tapi matanya itu kenapa…. ya Tuhan..! Ia menangis. Matanya yang sembab itu tak bisa mengubah wajahnya yang ingin ceria.

    “Bapak, kenapa Anda tertawa tapi juga menangis?”

    “Anak muda, aku adalah teknokrat yang telah menciptakan teknologi-teknologi ini. Aku bahkan telah menerbangkan orang ke bulan dan membuat stasiun ruang angkasa,” katanya masih terus menangis.

    “Lalu kenapa Anda bersedih?”

    “Karena aku juga yang telah membuat umat manusia terus ingin berperang dan bahkan tak lama lagi akan ada perang nuklir.

    “Oh Bapak, adakah jalan perdamaian itu?”

    “Di sini tidak ada, kalau kau ingin perdamaian cobalah untuk mencari ujung jalan sana!” tangannya menunjuk ke ujung barat. Jalan itu berkabut, aku tak dapat melihat ujungnya. Hanya sebuah tulisan “The Beginning of The End”. Aku tak dapat menemukan ujung jalan itu. Ini awal dari akhir, lalu di mana akhirnya?

    Aku berlari ke tengah persimpangan dan mencoba untuk mencari ke arah utara. Relief-relief itu menunjukan kehancuran Uni Soviet setelah perang dingin. Aku terus mencari ujung jalan itu hingga kabut berubah menjadi salju. Aku letih dan tetap tidak mendapatkan ujung jalan itu. Hanya ada tulisan di atas tembok samping jalan “The Beginning of The End”.

    Naluriku berkata untuk kembali ke pusat persimpangan dan mencari ujung jalan ke arah timur. Aku dapatkan relief-relief itu menggambarkan kemajuan yang luar biasa. Walaupun selalu dilalui pertumpahan darah semenjak zaman ke-Shogun-an hingga bom atom dijatuhkan di atas Nagasaki dan Hiroshima. Aku lihat perempuan muda menangis sedu-sedan dengan belati di ujung tangannya. Hatiku berdebar. Jangan sampai perempuan muda itu bunuh diri. Aku tahu di tempat ini banyak terjadi peristiwa bunuh diri.

    “Apa yang sedang Nona lakukan?”

    “Jangan mendekat! Biarkan aku mengakhiri kepiluan ini,” air matanya terus mengalir, “Sudah lama aku mencari akhir dari semua ini, tapi yang aku dapat kehampaan dan kesedihan yang tak ada ujungnya.” Suaranya tercekat seiring dengan belati electrical automatic yang telah merobek urat lehernya.

    Oh Tuhan, kenapa ini selalu terjadi? Aku melihat ujung jalan timur yang juga selalu berkabut dan gelap di ujungnya. Di tembok samping jalan itu juga bertuliskan “The Beggining of The End”. Pikirku langsung tertuju pada satu jalan yang belum aku lalui, yaitu jalan selatan. Aku lekas pergi dan berlari.

    Sepanjang jalan selatan aku hanya melihat kesunyian. Angin dingin dan berkabut merasuk ke sumsumku. Antartika telah menjadi kota yang sepi. Salju yang semula putih telah berubah menjadi merah kehitaman oleh darah yang mengental. Relief itu telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Kereta listrik bawah samudera adalah kebanggaan kota ini. Tapi sekarang sepi, hanya ada seorang tua yang duduk di bawah tulisan “The Beginning of The End” terpahat di samping jalan yang juga berkabut dan gelap di ujungnya.

    “Bapak, apakah Anda penduduk jalan selatan?”

    “Bukan, aku sebetulnya penduduk jalan tenggara yang mencari suaka.

    “Apa ada jalan tenggara itu?”

    “Semula ada tapi PBB telah menghapus dan mengambil alih seluruh kota tenggara dan menyerahkannya kepada para pengusaha raksasa dunia.

    “Kenapa bisa begitu?”

    “Sepuluh tahun yang lalu, penduduk tenggara perang saudara besar-besaran memperebutkan budaya dan blok-blok yang penuh minyak,” raut mukanya tanpa ekspresi pertanda dia telah mati rasa, “Mereka begitu bodoh karena sesungguhnya yang diuntungkan dari semua itu bukan rakyat melainkan perusahaan-perusahaan multi-nasional.”

    Setelah mendengar semuanya aku kembali ke pusat persimpangan dan merenung di atas kursi yang melingkari miniatur bumi. Semakin aku jalan ke ujung, keadaan umat manusia semakin berkabut dan gelap. Mungkinkah persimpangan jalan ini ujung dari semunya? Ataukah pusat dari semua peristiwa? Di sinilah tempat berkumpulnya penguasa dan pengusaha di seluruh dunia. Merekalah yang membuat seluruh kebijakan strategis, yang menyatakan perang atau tidak. Sepertinya, merekalah pangkal dari semua masalah.

    R. B. “AKAR”, 01-09-09
    Category: Cerpen | Added by: fajar (2009-09-29)
    Views: 590 | Comments: 2 | Rating: 1.0/1
    Total comments: 1
    1  
    waaah......cerpenq dimuat....makasih banyak ya.....smoga bisa jadi sumbangsih kemeriahan kaluwargi sadaya...amin

    Name *:
    Email *:
    Code *: