Pentingnya Memahami Budaya Oleh: Ihsan Fahmi - Lintas Budaya - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:58 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Lintas Budaya

    Pentingnya Memahami Budaya Oleh: Ihsan Fahmi


     

    "Ih, kok gitu sih negaranya?"

    "Wah... mending negara kita dong!"

    "Kita yang lebih baik."

    "Wah... negaranya keren, ya (budayanya)... nggak kayak negara kita."

    "Negaranya banyak keunggulannya, sementara negara kita? Memangnya punya yah?"

     

    Ya, kadang kita memandang negara dari satu sisi atau membandingkan kemajuan satu negara dengan negara lain, seakan-akan negara yang ia dambakan adalah segalanya. Padahal jika kita telusuri, begitu banyak kelebihan satu negara yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. Sebagai contoh budaya, bahasa dan suku adalah kelebihan sekaligus faktor pendukung suatu negara. Ia merupakan cikal bakal bangkitnya negara, bahkan maju tidaknya suatu negara sangat tergantung pada tiga faktor di atas. Hingga dapat dipelihara, dijaga serta dilestarikan dengan sebaik-baiknya.

     

    Kebudayaan sebuah bangsa tidak pernah statis. Ia senantiasa dinamis dan mampu beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat. Adakalanya ia mempengaruhi atau malah sebaliknya, dipengaruhi oleh masyarakatnya. Kebudayaan mengalir dalam setiap gerakan, saling pengaruh tanpa akhir dalam denyut nadi kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar. Bahkan ia bisa menjadi gelombang besar yang mempengaruhi kesadaran dan laku kita. Kalau kini orang berbicara tentang krisis masyarakat yang mendalam, bukankah ia juga berbicara tentang krisis budaya, krisis nilai, dan krisis kehidupan itu sendiri?!

     

    Mengenai krisis budaya, Taufik Abdullah memperkenalkan rumusannya menyangkut kemiskinan budaya yang dialami suatu komunitas masyarakat dalam wacana elite politik dengan sebutan "spiral kebodohan yang menukik ke bawah". Kebodohan yang dibalas dengan kebodohan akan melahirkan kebodohan lain. Begitu sering kita saksikan di banyak media. Pernyataan itu hanya akan melahirkan kebodohan baru. Akhirnya, menciptakan semacam spiral kebodohan yang terus menukik ke bawah.

     

    Sebagai contoh, bangsa yang miskin budaya akan terus menerus mengklaim budaya bangsa lain tanpa batas. Padahal jika kita pikirkan, mengklaim budaya bangsa lain adalah awal dari kehancuran suatu bangsa karena minat terhadap budaya lokal akan memudar dan akan merenggangnya mitra kepercayaan terhadap negara tersebut di kancah internasional.

    .

    Lebih dalam lagi Soedjatmoko mengingatkan kita tentang ancaman kemanusiaan berupa kemiskinan, ledakan penduduk, dan degradasi lingkungan global yang dampaknya akan dirasakan oleh suatu bangsa. Ia juga menyebut munculnya fenomena "masyarakat stres" dan "masyarakat sakit", yang ditandai oleh sakit mental, kekerasan, penyalahgunaan obat dan kenakalan remaja. Maka tak heran kalau Soetardji Calzoum Bachri mengajak bangsa kita dengan lantang: "Wahai bangsaku, keluarlah engkau dari kamus kehancuran ini. Cari kata! Temukan ucapan! Sebagaimana dulu para pemuda menemukan kata dalam sumpah mereka." Senada dengan Sartono Kartodirdjo yang mengumandangkan pentingnya kesadaran sejarah dalam proses pendidikan bangsa. Kuntowijoyo mengajukan pentingnya transendensi dan humanisasi untuk melawan politisisasi, sekularisasi, dan komersialisasi budaya.

     

    Betapa pentingnya kita menghormati dan menjaga budaya yng sudah ada, karena kebudayaan mempunyai hubungan erat dengan masyarakat dalam suatu bangsa. Menurut Andreas Eppink, "Kebudayaan ialah keseluruhan pengertian yang mencakup nilai, norma, ilmu pengetahuan serta struktur-struktur kemasyarakatan, keagamaan selain penghasilan seni dan intelektual yang membentuk ciri khas sebuah masyarakat." Pendapat Andreas juga sempat disetujui oleh Edward B. Taylor yang memandang budaya sebagai satu konsep menyeluruh yang rumit yang mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, tata susila, undang-undang dan tatanan hidup masyarakat.

     

    Ahli antropologi dari alam Nusantara, Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi pun memegang kebudayaan sebagai alat penghasil karya seni, rasa dan pencipta di dalam tatanan masyarakat.

     

    Nah, bagaimana sekarang dengan bangsa yang miskin budaya atau hanya bisa mengklaim budaya lain dengan alasan budaya instan. Budaya instan yang menganggap bahwa bahagia, kekayaan, sukses, dan prestasi bisa diraih seperti membalikkan telapak tangan, sebaliknya budaya instan tersebut semestinya harus dilawan dengan budaya yang memandang bahwa semua itu harus diraih dengan keringat dan air mata. Budaya-budaya yang menggampangkan penyelesaian persoalan, dengan cara potong kompas dalam kehidupan sehari-hari, mesti dilawan dengan cara-cara yang lebih beradab.

     

    Prestasi yang diraih dengan kerja keras harus diberi penghargaan secara layak dan harus diciptakan mekanisme penilaian untuk orang-orang yang meraih prestasi dengan kerja keras. Kita harus menanamkan pendidikan budaya yang memberi pengertian kepada anak-anak agar korupsi, perilaku tidak jujur, komersialisasi jabatan, sampai jual beli gelar aspal, plagiat, atau mencontek adalah contoh budaya instan yang tidak layak diberi tempat dalam masyarakat. Karena kita hanya menghargai orang yang bekerja keras. Sebagai contoh, bangsa kita meraih kemerdekaan dengan perjuangan dan tumpah darah serta deraian air mata, beda sekali dengan negara tetangga yang miskin budaya, yang kemerdekaannya hanya dikasih oleh ratu dalam sebuah kado kemerdekaan. Yah, begini “ke depan cuma bisa jadi bangsa plagiat tanpa bercermin kepada sejarah".

     

    Budaya sangat penting bagi suatu bangsa, di mana budaya bisa menjadi andalan dan ciri khas dalam tatanan berbangsa dan bernegara.

     

    Singkatnya, tidak ada alasan bagi kita untuk memandang rendah bangsa/suku lain yang terbelakang. Dan jelas tidak ada alasan juga bagi kita untuk memandang rendah diri kita sendiri. Perbedaan yang muncul bukan disebabkan oleh superioritas/inferioritas pada tingkatan individu, tetapi lebih jauh hal tersebut berhubungan dengan kondisi geografis yang harus dihadapi para nenek moyang kita.

     

    Sedangkan di zaman modern ini, perbedaan yang ada antara negara miskin dan Negara kaya lebih disebabkan oleh sistem dan budaya yang sudah terbentuk. Tentu saja, sebagai manusia yang memiliki akal budi, kita memiliki kemampuan untuk merubah sistem dan budaya yang ada di sekitar kita. Lantas, bagaimana dengan tingkah laku dan pola pikir suatu bangsa yang plagiat dan selalu mengedepankan budaya instan? Hemmm.. itu lain cerita..
    Category: Lintas Budaya | Added by: fajar (2009-09-29)
    Views: 3529 | Comments: 1 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Name *:
    Email *:
    Code *: