The Beginning of the End II - Lintas Budaya - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:59 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Lintas Budaya

    The Beginning of the End II


    Aku terus melangkah mencari tempat dimana pak tua duduk dalam kesendiriannya. Tak lama kemudian aku telah sampai pada tempat tujuan, sebuah dinding yang bertuliskan "The Beginning of The End” di samping jalan yang selalu berkabut. Aku tak menemukan jejak pak tua sama sekali. Tempat ini kosong. Ujung jalan ini tetap menampakkan gelap yang makin berkuasa. Sepi semakin mencabik. Aku menyesal kenapa aku cepat-cepat meninggalkannya. Aku masih membutuhkan banyak jawaban. Aku harus menemukannya.

    Kutelusuri setiap gang yang penuh dengan bercak darah dan selongsong peluru yang berserakkan. Aku saksikan gedung-gedung pencakar langit yang dulu berdiri pongah kini telah berubah menjadi kerangka raksasa yang hilang kuasa. Dibalik reruntuhan gedung, aku dengar suara gemericik aliran air. Aku melangkah dan memperhatikan dengan saksama. Cahaya terang tampak dari luar reruntuhan gedung yang pekat oleh kabut. Ada apa disana? Dengan sangat hati-hati aku masuk. Ya Tuhan….danau yang begitu asri, indah menawan. Matahari bersinar dengan terang di sini. Pohon-pohon perdu masih anggun berdiri. Angin danau terasa sejuk membelai wajah dan hatiku yang lelah.

    Di samping danau aku lihat seonggok gubuk kayu dan sebuah tulisan "The Ultimate Harmony”. Aku benar-benar takjub. Seolah tak pernah terjadi perang. Tempat ini sama sekali tak tersentuh rudal-rudal kendali. Sebutir peluru pun tak pernah singgah di tempat ini. Sama sekali tak ada jejak sepatu tentara yang barbar itu. Tempat ini sangat kontras dengan kondisi di balik reruntuhan gedung yang gelap dikelilingi kabut. Di sini, matahari belum mati. Tempat ini sangat natural sedangkan di luar sana semuanya serba digital.

    "Anak muda, kau datang ke sini untuk mengobati hatimu yang gelisah?”, pak tua telah berdiri di belakangku tanpa kutahu dari mana datangnya.

    "Oh, Bapak telah mengagetkan saya.

    "Sepuluh tahun yang lalu, aku sepertimu. Mencari tempat ini hanya untuk memperbaiki tata surya diri yang telah tak punya gravitasi.

    "Bapak, terus terang saya tidak paham maksud Bapak tentang tata surya,  aku tak dapat menutupi kebingunganku. "Saya juga tidak paham kenapa manusia haus perang? Kenapa banyak orang merasa hampa dan kering? Kenapa teknologi digital tidak juga menyelesaikan masalah umat manusia?”

    Pak tua sama sekali tak merasa keheranan dengan pertanyaan-pertanyaanku. Wajahnya masih tak berekspresi. Ia berjalan meninggalkanku, seolah tak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah mengganggu pikiranku. Aku sangat kecewa dan berusaha mengejarnya. Ia masuk ke dalam gubuk kayu. Di dalam gubuk itu terdapat sepasang kursi kayu yang saling berhadapan dan sebuah meja kecil—juga terbuat dari kayu—di tengahnya. Ia duduk dan mempersilahkanku duduk di hadapannya.

    "Dunia ini mempunyai sistem yang sama, baik makrokosmos seperti galaksi dan tata surya kita ataupun mikrokosmos seperti atom. Semuanya memeliki garis orbit yang mengelilingi pusat orbit dan dijaga oleh gravitasi. Manusia pun demikian adanya, memiliki pusat orbit. Apabila gravitasi melemah maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Tata surya manusia akan menjadi tidak tertata. Tata surya yang tidak tertata itu harus segera diperbaiki agar manusisa tetap berjalan pada orbitnya.

    Tata surya manusia? Baru aku dengar istilah ini. Sejenak aku lihat diriku sendiri. Aku mencari letak tata suryaku, pusat orbit dan gravitasi. Apakah ini sekadar metafora atau memang benar aku memiliki tata surya? Kutengadahkan kembali kepalaku ke wajah pak tua untuk meminta penjelasan lebih banyak. Aku sedikit heran, ada yang beda pada wajah pak tua, sekarang lebih bercahaya.

    "Selama ini gravitasi sosial kemanusiaan pudar dan manusia beredar tidak pada garis orbitnya yang hakiki. Mereka berbondong-bondong mengitari pusat orbit semu, yaitu: materialistik, kekuasaan dan kepentingan-kepentingan semu yang lain. Sejak abad 20 tekonologi dan ilmu pengetahuan terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tapi sayang hal ini tidak dibarengi dengan perkembangan jiwa manusia itu sendiri. Semestinya teknologi digital harus diiringi dengan spiritual digital pula. Selama manusia tidak memiliki spiritual digital, yang terjadi adalah kehampaan jiwa. Kemajuan teknologi tak akan berpengaruh apa-apa pada kejiwaan manusia. Teknologi adalah lahiriah, sementara jiwa manusia adalah batiniah."

    Aku tertegun mendengar ucapan-ucapan pak tua dan wajahnya yang makin bercahaya. Aku temukan kedamaian di sorot matanya, di setiap raut wajah tuanya, di setiap intonasi dan getar suaranya. Mulutku enggan berkata, satu hal yang ingin aku lakukan adalah mendengar setiap kata yang terucap. Aku ingin memastikan dengan seksama setiap gerak bibir pak tua.

    "Ketika manusia kehilangan pusat orbitnya yang hakiki, yaitu spiritual center’, tempat suara hati bersemayam. Manusia akan selalu menurut kepada emosi dan persepsi yang selalu berubah-ubah. Persepsi bagai angin, hilir mudik di atas lembaran-lembaran koran, di berita-berita TV dan pidato-pidato para penguasa. Persepsi bagai udara yang mudah dihirup sosial. Benar dan salah telah bias oleh lidah-lidah pembawa kepentingan. Tak ayal persepsi-persepsi semacam ini dengan mudah membangkitkan emosi sosial. Sedih, kecewa, bahagia, senang, benci dan amarah dapat dengan mudah dibuat dengan jalan menyebarkan persepsi".

    Persepsi? Aku baru sadar, persepsilah yang telah membuatku berjalan sejauh ini. Otakku telah dipenuhi jutaan persepsi dari jutaan sumber. Benar dan salah memang telah bias. Persepsi telah menjadi alat favorit orang-orang yang punya kepentingan.

    "Sehebat itukah persepsi mengelabui umat manusia?" pertanyaan itu terucap secara tiba-tiba tanpa kusadari. Aku lihat pak tua tersenyum. Hatiku sangat bahagia dapat melihat ekspresi senyumnya.

    "Anak muda! Emosi dan persepsi dapat dengan mudah membelenggu suara hati. Hati manusia akan menjadi beku bahkan mati. Saat ini suara hati keadilan, rasa kasih sayang, rasa memberi, bertanggung jawab dan kejujuran telah hilang dari muka bumi ini. Oleh sebab itu, pertikaian antar sesama selalu meraja-lela. Pertikaian antar kekuatan kecil berdampak kecil. Pertikaian antar kekuatan besar berdampak besar, bahkan perang. Peperangan yang terjadi selama ini adalah buah dari pertikaian-pertikaian tersebut. Semua kota berlomba membangun kekuatan pertahanan karena merasa terancam dan bertekad untuk memenangkan pertikaian. Semua kota berkehendak menguasai dunia padahal menjadi penguasa dunia tidaklah membuat damai itu nyata”.  

    Aku ingat kota-kota yang telah menjadi puing-puing berserakan karena berkehendak untuk menguasai dunia. Antartika yang berdarah, Pan-Americana yang merana, Rusia yang kalah, Timur Raya yang goyah. Aaah... biarlah. Sekali lagi ingin kutatap wajah pak tua yang damai itu, tapi…dimana dia? Dia telah menghilang. Aku cari ke sekeliling tapi tak dapat menemukannya. Sebuah tulisan terpahat jelas di tiang gubuk yang terbuat dari kayu itu, "KEDAMAIAN ADA PADA PUSAT ORBIT HAKIKI”.

     

    BIP 16-B-9, 09-10-09

    Category: Lintas Budaya | Added by: fajar (2010-02-23)
    Views: 792 | Comments: 4 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Name *:
    Email *:
    Code *: