Al-Mar’atu baina Haqaiqul Islam wa abtahilil Gharab - Resensi - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:59 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Resensi

    Al-Mar’atu baina Haqaiqul Islam wa abtahilil Gharab

    Namun keberadaan wanita di tengah-tengah masyarakat seolah menjadi salah satu problem yang tidak pernah tuntas didiskusikan, ia seolah menjadi isu sosial yang menarik sejak zaman dahulu hingga saat ini. Masalah itu tetap tidak akan pernah tuntas, selama wanita diperlakukan dan memperlakukan dirinya dengan menyalahi fitrah mereka, wanita dihinakan, dipuja bahkan menjadi tuntutan kesetaraan di segala bidang. Berbagai istilah yang sering kita kenal dengan emansipasi, kesetaraan gender serta karirisasi seakan tidak pernah menemukan titik temu dengan hukum tuhan yang melindunginya, istilah-istilah tersebut seolah bayangan semu membebaskan wanita dari peran aslinya serta mengorbankanya di tengah pergolakan global.

    Meski telah banyak tokoh wanita yang memperjuangkan pergerakan kewanitaan, namun  pada mulanya Propaganda gerakan tersebut muncul dari pihak laki-laki dan hanya sedikit saja peran wanita. Awalnya gerakan emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi kaum perempuan, namun sayannya seiring dengan banyaknya pengaruh serta stigma negatif yang menyertainya, gerakan emansipasi seolah menjadi gerakan yang kehilangan arah, hal itu tentunya sengaja di buat oleh beberapa kalangan yang ingin memanfaatkan peran wanita dengan memanfaatkan serta merubah orientasi gerakan tersebut menjadi suatu gerakan yang kebablasan.

    Dalam sejarah perjalanan umat manusia, sikap ambivalen terhadap posisi wanita tidak pernah berakhir. Barat contohnya, hal ini merupakan provokasi dari kaum sekuler, pemahaman salah dari agama -agama ghairul Islam (non Islam) filsafat serta kepentingan politik.

    Masih terngiang bagaimana barat mendeskriditkan posisi wanita, sebaimana yang dikatakan pendeta Paus Tertulianus misalnya, "Wanita merupakan pintu gerbang syeitan, masuk ke dalam diri laki-laki untuk merusak tatanan Ilahy dan mengotori wajah Tuhan yang ada pada laki-laki.” Sedangkan Paus Sustam mengatakan, "Wanita secara otomatis membawa kejahatan, malapetaka yang mempunyai daya tarik, bencana terhadap keluarga dan rumah tangga, kekasih yang merusak serta malapetaka yang menimbulkan kebingunggan”.

    Belum lagi posisi wanita yang sering kali dimanfaatkan secara komersil di  berbagi ruang lingkup khususnya media-massa. Sebagaimana Yvone Ridley seorang jurnalis Ingris yang kini menjadi seorang pejuang feminis Islam menungkapkan "mereka menampilkan citra wanita yang penuh glamour—sensual dan fisikal. Dengan kata lain, penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi!  (Emansipasi; Madu atau Racun), dalam ari kata Kesetaraan gender yang disuarakan barat hanyalah sebuah perbudakan wanita di balik eufisisme pemasaran.” Ujarnya.

    Secra umum buku ini akan menungkap bagaimana posisi wanita diantara naungan dan pandangan Islam berdasarkan hak serta kewajibanya sebagai wanita, serta sangkalan terhadap stigma barat terhadap Islam yang seringkali di sebut sebagi "pengisolasian wanita” dan doktrin mereka yang seringkali memposisikan wanita dalam kesteraan gender yang kebablasan. Selamat membaca.    

    Category: Resensi | Added by: fajar (2010-02-23)
    Views: 744 | Comments: 110 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Name *:
    Email *:
    Code *: