Menikmati Lebaran di Negeri Perantauan - Sorotan Utama - Manggala Online - kpmjb official website
Saturday
2016-12-03
9:58 AM
Section categories
Analisa [3]
Arabiatuna [1]
Barakatak [2]
Cerpen [1]
Figura [2]
Lenyepaneun [1]
Lintas Budaya [4]
Paguyuban [10]
Resensi [4]
Salam Rumpaka [2]
Serial Kampus [3]
Sorotan Utama [1]
Keputrian [3]
Warta Kita [2]
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Search
Site friends
  • Create your own site
  • My site
    Main » Articles » Sorotan Utama

    Menikmati Lebaran di Negeri Perantauan

    Sanak saudara; mulai dari Ayah, Ibu, Adek sampai anak tetangga kini tak hadir di pelupuk mata. Kenangan manis berlebaran bersama mereka saat di tanah air dulu, acapkali hadir dan tak ayal membuat kita ingin cepat-cepat angkat koper pulang ke Indonesia. Kini, saat-saat berlebaran di perantauan, kehadiran mereka hanya ada di ujung telepon atau hanya bertegur sapa melalui pesan singkat.
    Bagi kita yang "terpaksa” harus menikmati hari raya bukan di negeri sendiri, tentu bukan alasan bagi kita untuk berkecil hati atau malah sedih secara berlebihan karena tak ada keluarga yang bisa kita salami. "Sedih banget nggak ada keluarga. Tapi alhamdulillah, terobati dengan banyak diadakannya acara-acara semacam open house, dengan menu hidangan khas Indonesia, serta kumpul-kumpul bareng teman-teman,” tutur Nida, kepada Kru Manggala.
    "Biasa aja, soalnya sewaktu di Indo memang saya sering lebaran di Pondok,” ungkap Falih, mantan ketua Fosmagati.
        Berbeda dengan Nida dan Falih, Iwan, mahasisiwa asal Pelembang, malah sebaliknya. "Bahagia sekali, soalnya kalau di Mesir rindu ke kampung halaman lebih terasa, justru ketika nelepon, kita malah lebih akrab. Kalau di Indo kita 'kan sudah sangat sering bertemu. Jadi, tidak terlalu berkesan,” ungkapnya panjang lebar.
        Perbedaan kultur dan budaya antara kondisi masyarakat kita dengan masyarakat Arab dalam menyambut hari raya umumnya jauh berbeda. "Lebaran di sini sepi, kayak kurang khidmat,” celoteh Asep salah satu warga asal Sukabumi, kepada Kru Manggala.
        Ungkapan "sepi, engga rame dan lain-lain” pada umumnya pernah terucap atau terdetik dari lubuk hati setiap Masisir, menggambarkan kesan pertama saat lebaran di negeri ini. Bagaimana tidak, layaknya di tanah air, suara takbiran dari tiap speaker masjid dan mushola, nyaris saja tak terdengar. Kentongan bedug, bahkan takbir keliling pun tak pernah kita temui. "Nggak rame, tapi nggak apa-apa yang penting bisa mengisi lebaran ini dengan totalitas dalam mengisi aktivitas Ramadhan,” tambah Asep diplomatis.
        Setiap kebudayaan tentu memiliki nilai positif dan negatif serta corak pandang yang memang berbeda-beda, termasuk salah satunya budaya Arab yang umumnya lebih mementingkan nilai substansi daripada simbol. Sebagai contoh, berbagai aktivitas orang Arab dalam menyambut bulan suci Ramdhan dengan totalitas ibadah serta tradisi selebrasi mereka ketika merayakan hari raya Idul Fitri yang tak terlalu berlebihan. Nah, Perbedaan inilah yang seyogyanya dapat kita pelajari.
        "Walaupun tak terdengar suara tadarusan al-Qur’an dari tiap speaker masjid, tapi mereka senantiasa mendawamkannya dalam setiap kesempatan; di bus, di jalanan, bahkan ketika ngantri sekalipun. Pemandangan ini tentu sangat jarang kita temui di Indonesia,” tutur Falih berujar. Senada dengan Falih, Andi yang bertempat tinggal di bilangan Qatamiyah ikut menuturkan kesannya, "Saya kagum dengan totalitas orang Mesir dalam mengagungkan bulan Ramadhan, mereka bener-bener intens; terlihat dari kepedulian (musa’adah) para agniyanya terhadap para pelajar asing serta aktivitas-aktivitas ibadah lainya,” ungkapnya.
        Sementara itu, keberadaan Masisir yang cukup banyak, serta eksistensi mereka dalam berbagai komunitas dan keorganisasian-dari KBRI, PPMI, kekeluargaan, bahkan almamater- seolah-olah berlomba-lomba mengadakan agenda kegiatan yang bermacam-macam mewarnai aktivitas, mulai dari awal bulan puasa hingga hari raya tiba.
        KBRI dengan Masjid SIC-nya di daerah Dokki, tak pernah absen dengan rutinitas tahunannya mengadakan tarawih dengan menyajikan makanan sebagai penutup ibadah tarawih. Bagi Masisir yang ingin tarawih berimamkan orang Indo Asli, serta mendapatkan paket makanan gratisan ditambah transportasi antar jemput, siap-siap saja ngantri di depan kekeluargaan atau di depan gerbang Mission City secara bergiliran.
        KBRI bekerjasama dengan PPMI dan Kekeluargaan yang hampir tak pernah absen menggelar sholat Ied bersama di mesjid as-Salam. Konon, katanya di mesjid ini merupakan bacaan Sholat Tarawih yang terpanjang di Mesir. "Seneng bisa sholat bersama di as-Salam, kumpul bareng temen-temen, jadi penawar rindu buat keluarga,” tutur Dudi. "Seneng sih, cuma dari dulu acaranya itu-itu terus, bagi yang sudah bertahun-tahun di Mesir kadang bosen, kalau bisa ada terobosan baru, semacam panggung kecil diisi dengan nasyid atau lainya, atau juga bazar makanan tiap daerah, agar enggak membosankan,” ungkap Iwan.
        Begitu pula acara di kekeluargaan, KPMJB salah satunya. Berbagai kegiatan telah usai digelar. Dari acara unggulan: Tarhib, Tahsin, Takrim Mutafawwiqin & peringatan malam Nuzulul Qur’an, buka puasa bersama para sesepuh hingga open house dan halal bi halal seolah telah menjadi suatu tradisi yang tak boleh terlewatkan.
        "Alhamdulillah, semua kegiatan yang telah direncanakan berjalan lancar,
    walaupun masih banyak kekurangan,” ucap Firadus, koordinator sosial KPMJB. "Hanya saja tahun ini antusias warga kurang begitu besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Publikasi sudah, tapi mungkin sosialisasinya yang masih kurang,” tambahnya. "Selain karena kesibukan masing-masing, kita memang terlambat. Mulai pengangkatan sampai pelantikan Dewan Pengurus. Jadi, kita masih kurang sigap,” tutur Kang Imam, menanggapi evaluasi kerja Dewan Pengurus KPMJB selama bulan Ramadhan.
        Anyway, Ramadhan sudah beranjak meninggalkan kita, sedih karena ditinggal lalu berharap agar dipertemukan kembali adalah anjuran, tetapi menyesali masa lalu bukanlah satu pilihan. Saat ini, saat sawal mulai menjelang mari kita tunjukan bahwa pengaruh Ramadhan masih ada dalam diri dan jiwa kita. Terus memperbaiki, dan mengembangkan diri, agar menjadi pribadi muslim yang unggul!! (Kru Manggala)
    Category: Sorotan Utama | Added by: fajar (2010-01-28)
    Views: 366 | Comments: 1 | Rating: 0.0/0
    Total comments: 0
    Name *:
    Email *:
    Code *: